Maulid  Alhamdulillah, segala puji hanya untuk Allah SWT. Shalawat dan salam semoga tercurah untuk Rasulullah Muhammad SAW. Amma ba’du.

Sebelum kita membahas apa dan bagaimana Maulid itu, terlebih dahulu mari kita kupas pengertian Bid’ah. Salah satu hadist yang sering dipakai sebagai pedoman pembid’ahan suatu amaliyah adalah hadist :

كُلُّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ وَكُلُّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ وَكُلُّ ضَلاَلَةٍ فِى النَّارِ

“Setiap perkara yang diada-adakan itu bid’ah, setiap yang bid’ah itu sesat dan setiap kesesatan itu masuk neraka”. (Hadis Riwayat Muslim).

Benarkah Maulid termasuk bid’ah yang sesat ? Mari kita telaah lebih lanjut…..

Bid’ah, antara Istilah Bahasa ( lughowy )  dan Syara’

Salah satu hal yang penting untuk diketahui oleh kaum muslimin adalah bid’ah. Sebab ketidaktahuan tentang bid’ah ini akan membawa seseorang kepada beberapa hal.

Pertama adalah melakukan sebuah amalan yang disangkanya baik, namun karena amalan tersebut termasuk bid’ah, maka amalan tersebut menjadi sia-sia. Bahkan bisa menyebabkan seseorang masuk neraka.

Kedua, ketidak tahuan tentang bid’ah akan menyebabkan seseorang dengan serampangan membid’ahkan amalan yang sebenarnya tidak bid’ah. Tak jarang hal itu menimbulkan perdebatan, pertikaian bahkan sikap permusuhan dengan sesama muslim. Sudah tentu, hal ini akan merugikan kaum muslimin, di tengah gempuran global terhadap Islam saat ini.

Setiap kata dalam syariah memiliki makna dari beberapa hakikat. Ada beberapa hakikat makna dalam kajian Islam. Yaitu hakikat lughawi, yaitu makna suatu kata dari sudut pandang bahasa. Makna hakikat lughawi ini biasanya diperoleh dalam kamus bahasa. Dari sudut pandang bahasa inilah, maka Amirul Mukminiin Umar mengomentari sholat tarawih berjama’ah, “Sebaik-baik bid’ah adalah ini“ ( Riwayat Bukhari dan Malik ). Dari sudut pandang bahasa ini pulalah, maka Imam Asy Syafi’i rahimahullah membagi bid’ah menjadi dua, yaitu bid’ah ghoiru madzmumah dan bid’ah dholalah. Ibnu Hajar dan lain-lain membagi bid’ah menjadi dua, yaitu bid’ah hasanah dan bid’ah sayyi’ah

Dan yang kedua, hakikat syar’i, yaitu makna suatu kata dari sudut pandang syariah. Hakikat syar’i ini dijelaskan oleh Rasulullah shallallah ‘alayhi wa aalihi wa sallam atau oleh Allah SWT dalam Al Qur’an. Kata sholat misalnya. Secara bahasa artinya doa. Namun secara syariah, sholat ini berarti perbuatan dan perkataan yang diawali dengan takbir dan diakhiri dengan salam dengan tatacara dan syarat tertentu.

Bid’ah menurut ibn Abdul Wahhab

Yang menjadi masalah adalah pengertian bid’ah secara syar’i. Ketika Rasulullah shallallah ‘alayhi wa aalihi wa sallam bersabda, “setiap bid’ah adalah sesat” ( H.R. Muslim ), maka apakah maksud bid’ah dari ungkapan di sini?

Pengikut Muhammad bin Abdul Wahhab berdalil bahwa bid’ah adalah semua amalan yang tidak pernah dilakukan, diperintahkan dan dicontohkan oleh Rasulullah SAW dalam bidang keagamaan. Berdasarkan pengertian mereka  ini, maka semua kreasi doa ( seperti Hizb Nawawi, Hizb Barqi ), semua kreasi shalawat ( seperti Shalawat Nariyah, Munjiyat, Shalawat Barzinji dll ) termasuk Tahlilan adalah bid’ah, sesat dan tertolak.

Jika kita mengikuti kelompok ini, maka kita pun akan menemui beberapa kontradiksi dengan realitas pada zaman Rasulullah dan para sahabat. Jika kita mengatakan bahwa jika sesuatu itu baik, pastilah Rasulullah SAW akan paling dahulu melakukannya. Namun ternyata hal ini tidak sesuai dengan realita dalam kehidupan para shahabat dan tabi’in. Berikut ini beberapa contoh

  1. Dalam kasus pembukuan Al Qur’an menjadi satu buku, ini baru dilakukan pada masa Khalifah Abu Bakar Ash Shiddiq.
  2. Dan penunggalan kodifikasi model Al Qur’an baru dilakukan di masa Amirul Mukminin Utsman.
  3. Dalam kasus pembacaan qunut, Umar bin Khaththab memiliki doa qunut tersendiri yang tidak dicontohkan oleh Rasulullah shallallah ‘alayhi wa aalihi wa sallam ( Al Adzkar An Nawawi hal. 49 ).

Bid’ah menurut ulama Ahlussunnah

Sedangkan kelompok ahlussunah berpendapat bahwa bid’ah yang dimaksudkan dalam hadist di atas adalah segala sesuatu hal baru yang menyelisihi atau tidak bisa dikembalikan kepada Al Qur’an, Sunnah atau Ijma’. Tetapi jika hal baru tersebut masih bisa dikembalikan kepada dasar Al Qur’an, Sunnah atau Ijma’, maka hal tersebut bukan bid’ah dholalah ( bid’ah sesat ). Di antara penganut tafsir ini adalah Al Imam Asy Syafi’i.

Karena itulah, sangat bijaksana ketika Al Imam Asy Syafi’I rahimahullah berkata, ”Setiap sesuatu yang mempunyai dasar dari dalil-dalil syara’ bukan termasuk bid’ah meskipun belum pernah dilakukan oleh salaf. Karena sikap mereka meninggalkan hal tersebut terkadang karena ada udzur yang terjadi pada saat itu, atau karena ada amaliah lain yang lebih utama atau barang kali belum diketahui oleh mereka“ ( Itqaan Shin’ah fi tahqiiqi ma’na bid’ah hal. 5 ).

Contoh-contoh bid’ah hasanah :

  1. Ibnu Mas’ud membuat redaksi shalawat sendiri ( H.R. ibnu Majah no.906 dan diriwayatkan oleh Ibnul Qayyim dalam jalaa’ al afhaam no hal 36 dan 72 ).
  2. Utsman bin Affan menambah adzan jum’at menjadi 2 kali, suatu hal yang juga tidak pernah secara langsung diajarkan oleh Rasulullah .
  3. Umar bin Khatab menambahi bacaan talbiyyah haji yang tidak diajarkan oleh Rasulullah SAW ( H.R. Bukhari 170 ).

Maulid bukan bid’ah sesat

 Satu dalil yang bisa dipakai untuk membela peringatan Maulid adalah ( Q.S. Yunus : 58 )

قل بفضل الله وبرحمته فبذلك فليفرحوا هو خير مما يجمعون

“Katakanlah: “Dengan kurnia Allah dan rahmat-Nya, hendaklah dengan itu mereka bergembira. Kurnia Allah dan rahmat-Nya itu adalah lebih baik dari apa yang mereka kumpulkan” ( Q.S. Yunus : 58 ). Ayat ini menjelaskan perintah bergembira dengan datangnya nikmat Allah. Bukankah Rasulullah shallallah ‘alayhi wa aalihi sallam juga nikmat Allah kepada kita ? Bahkan nikmat teragung. Tentu sudah sepantasnya kita bergembira karenanya.

Kisah Ka’ab bin Zuhair dan burdah ( selimut) Rasulullah

Kisah bermula saat Ka’ab sering membuat syair yang mengejek-ejek Nabi Muhammad SAW dan para sahabat. Ka’ab bin Zuhair adalah seorang penentang kerasulan Muhammad SAW. Karena merasa jiwanya terancam, ia lari bersembunyi untuk melindungi diri dari kemarahan para sahabat nabi. Ketika terjadi penaklukan Makkah, saudara Ka’ab yang bernama Bujair bin Zuhair mengirim surat kepadanya yang isinya antara lain menganjurkan Ka’ab agar pulang bertaubat dan berjumpa Rasulullah saw.

Setelah memahami isi surat itu, Ka’ab pun pulang ke rumah dan bertaubat. Ka’ab lalu berangkat menuju ke Madinah. Ia menemui Abu Bakar as-Siddiq, lalu Ka’ab menyerahkan diri kepada Rasulullah saw. Ka’ab mendapat penghormatan yang tinggi dari Rasulullah saw sehingga baginda melepaskan burdahnya dan diberikan kepada Ka’ab. Ka’ab kemudiannya menggubah sebuah qasidah yang dikenali dengan nama Qasidah Burdah yang isinya memuji-muji Rasulullah. Dan Rasulullah tidak melarang gubahan syair tersebut.

Dengan demikian jelas bahwa sholawat dan puji-pujian kepada Rasulullah yang umum dibaca pada peringatan Maulid adalah sunnah taqririyah. Sunnah taqririyah adalah perbuatan sahabat yang diketahui oleh nabi dan dibenarkan oleh beliau. Oleh karena itu cukup aneh jika Maulid yang didalamnya berisi kisah-kisah dan juga puji-pujian untuk Rasulullah dianggap sebagai bid’ah yang sesat dan dihukumi haram.

Maulid Nabi Muhammad hanyalah sebuah alat untuk menggiring manusia mendengarkan riwayat hidup Rasulullah . Bukan ghayah ( tujuan akhir ). Tujuan utama dari semua ini adalah agar manusia mengenal dan akhirnya mencintai Rasulullah Muhammad serta meneladani beliau. Wallahu a’lam bisshowab.

( disarikan dari berbagai sumber )