IMG_20130407_130038

Hari minggu kemarin saya mengajak keluarga untuk jalan-jalan. Kawasan kota tua Jakarta menjadi pilihan destinasi saya. Selain murah, kawasan ini juga menarik untuk dikunjungi karena mengandung nilai Sejarah. Ada beberapa titik yang menarik dan photogenic yang bisa kita amati dan kita abadikan dalam kamera ponsel kita. Syukur-syukur anda membawa kamera digital, tentu lebih bagus untuk mengabadikan berbagai tempat bersejarah. Diantaranya ;

1. Museum Fatahillah dan taman Fatahillah

2. Museum Seni rupa dan keramik ( merupakan bekas  Pengadilan Hindia Belanda )

3. Gedung Dasaad Musin, kafe Batavia, Toko merah, museum Bank Mandiri, Jembatan kota Intan dan lain – lain. Pokoknya banyak deh…sampai Pelabuhan sunda kelapa kotanya.

Sejarah kota Tua
Kota Tua Jakarta, juga dikenal dengan sebutan Batavia Lama (Oud Batavia), adalah sebuah wilayah kecil di Jakarta. Tahun 1526, Fatahillah, dikirim oleh Kesultanan Demak, menyerang pelabuhan Sunda Kelapa di kerajaan Hindu Pajajaran, kemudian dinamai Jayakarta. Kota ini hanya seluas 15 hektar dan memiliki tata kota pelabuhan tradisional Jawa. Tahun 1619, VOC menghancurkan Jayakarta di bawah komando Jan Pieterszoon Coen. Satu tahun kemudian, VOC membangun kota baru bernama Batavia untuk menghormati Batavieren, leluhur bangsa Belanda. Kota ini terpusat di sekitar tepi timur Sungai Ciliwung, saat ini Lapangan Fatahillah.

Penduduk Batavia disebut “Batavianen”, kemudian dikenal sebagai suku “Betawi”, terdiri dari etnis kreol yang merupakan keturunan dari berbagai etnis yang menghuni Batavia.

250px-COLLECTIE_TROPENMUSEUM_Gezicht_op_het_stadhuis_van_Batavia_en_de_tramhalte_TMnr_60022444

Stadhuis sekitar tahun 1700-an

IMG_20130407_130503

Museum Fatahillah – sekarang

IMG_20130407_112323

Tanda dari Penjajah

IMG_20130407_113527

Penjara Bawah Tanah

IMG_20130407_122400

Museum Seni Rupa & keramik – ex Gedung pengadilan Hindia Belanda

Museum dan Taman Fatahillah
Perjalanan saya awali di Museum dan Taman Fatahillah, karena disini jaman doeloe kala he..he adalah pusat kota Batavia.

Balai kota  ( Belanda : Stadhuis ) yang dibangun pada tahun 1707-1710 atas perintah Gubernur Jendral Johan van Hoorn . Bangunan itu menyerupai Istana Dam Amsterdam, terdiri atas bangunan utama dengan dua sayap di bagian timur dan barat serta bangunan sanding yang digunakan sebagai kantor, ruang pengadilan, dan ruang-ruang bawah tanah yang dipakai sebagai penjara. Objek-objek yang dapat ditemui di museum ini antara lain perjalanan sejarah Jakarta, replika peninggalan masa Tarumanegara dan Pajajaran, hasil penggalian arkeologi di Jakarta, mebel antik mulai dari abad ke-17 sampai 19, yang merupakan perpaduan dari gaya Eropa, Republik Rakyat Cina, dan Indonesia. Juga ada keramik, gerabah dan prasasti.

Setelah berkeliling museum kita dapat beristirahat sejenak di depan gedung yaitu Taman Fatahillah. Kita dapat melihat atraksi ondel-ondel ataupun berfoto-foto dengan model Nyonya meneer, si jampang ada juga model Vampir. Kita juga dapat menyewa sepeda onthel untuk berkeliling taman sembari mengenakan topi lebar bak seorang Meneer Belanda.

Dasaad Musin Concern  / Dasaad Musin Building

IMG_20130407_122918 IMG_20130407_124802

  Dassad Musin Building

Di depan taman Fatahillah ada sebuah gedung tua yang nyaris runtuh terlihat penuh misteri. Tidak banyak yang saya tahu soal gedung ini. Disebelah kanan terdapat tulisan ” Dasaad Musin concern ” lalu di depan terpampang   ” Dasaad Musin Building “.

Menurut beberapa sumber Dasaad Musin building dibangun tahun 1920-an,  dulu dipakai sebagai kantor oleh  Agus Musin Dasaad, seorang pengusaha asal lampung.  Dia merupakan pemilik Dasaad Musin Concern, sebuah konglomerasi yang memegang lisensi beberapa merek mobil Eropa dan Jepang, serta pabrik tekstil dengan merek Kancil Mas. Pada tahun 1930-an, Dasaad juga terjun ke bisnis perkapalan dan kemudian menjadi importir alat-alat manufaktur.

Sayangnya sampai sekarang tidak diketahui siapa pewaris gedung ini. Sehingga pemerintah terkesan membiarkan gedung ini lapuk dimakan usia.

Jembatan Kota Intan

jembatan-kota-intan

Jembatan Kota Intan di malam hari

IMG_20130407_121358

ssst…ada yang pre-wedding tu dibelakang…

Setelah puas di Taman Fatahillah kita dapat mengunjungi monumen bersejarah lainnya yaitu Jembatan kota intan . Jembatan ini sangat eksotis dan sering dijadikan latar untuk pemotretan pre wedding, seperti yang tampak dibelakang kami. he…he..

Jembatan dibangun pada tahun 1628 dengan nama Engelse Burg yang berarti “Jembatan Inggris” karena jembatan ini menghubungkan Benteng Belanda dan Benteng Inggris yang terletak berseberangan dibatasi oleh Kali Besar – Kali Ciliwung. Pada tahun 1628 dan 1629 terjadi penyerangan dari Banten dan Mataram terhadap Benteng Batavia yang mengakibatkan jembatan ini rusak, namun dibangun kembali oleh Belanda pada tahun 1630 dan pada saat itu dikenal dengan nama De Hoender Pasarbrug atau “Jembatan Pasar Ayam” karena lokasinya berdekatan dengan Pasar Ayam.

Selanjutnya pada tahun 1655 jembatan ini diperbaiki kembali oleh Belanda karena mengalami kerusakan akibat sering terkena banjir dan korosi akibat air asin, dan namanya diganti menjadi Het Middelpunt Brug atau “Jembatan Pusat”. Pada April 1938 jembatan ini dirubah menjadi jembatan gantung agar dapat diangkat untuk lalu lintas perahu dan untuk mencegah terkena banjir yang sering terjadi, namun bentuk dan gayanya tetap dan tidak pernah dirubah. Tetapi namanya diganti menjadi Ophalsbrug Juliana atau Juliana Bernhard.

Setelah proklamasi kemerdekaan RI nama jembatan ini diganti menjadi ”Jembatan Kota Intan”.

Kali Besar

kali-besar2

Kawasan Kali Besar

IMG_20130407_124845

tampak masih ada beberapa rumah kuno

Pada zaman VOC, di sepanjang Kali Besar ada berbagai bangunan seperti gudang, pemukiman pribadi, gereja, dan pasar. Beberapa pasar yang ada di kawasan Kali Besar antara lain Pasar Sayur, Pasar Pisang, Pasar Ayam, dan Pasar Beras. Di antara bangunan yang terletak di sepanjang Jl. Kali Besar Barat dan Jl. Kali Besar Timur yang rata-rata bergaya Eropa serta didirikan pada abad ke19, meliputi bangunan lama, kantor dan juga gudang. Keberadaan bangunan tersebut membentuk lingkungan bersejarah yang mempunyai daya tarik pariwisata khususnya bagi turis yang ingin rekreasi menikmati suasana “kota tua”.

Sayang sekali banyak bangunan yang tak terawat dan nyaris roboh. bahkan tak sedikit yang dijadikan lapak penampung barang-barang bekas. Belum lagi kondisi Kondisi kali yang penuh sampah dan berbau menyengat. Seandainya ada upaya revitalisasi mungkin kali besar bisa kembali jernih seperti sungai-sungai di Eropa.

IMG_20130407_125657

lapuk tak terurus….

IMG_20130407_121914

ini..entahlah….