Sepatutnya media memberikan porsi dan
expose yang layak untuk teladan-teladan yang baik
dan menunjukkan identitas kebangsaan. Beprestasi,
berbudi, berbakti dan bernurani.
Namun, mari kita bayangkan jika di saat yang
sama, yang dimunculkan serta dielu-elukan
mereka yang baru lulus SMA ini adalah wanita
berbusana minim, wajah coreng moreng, dengan
aksi-aksi seronok tanpa makna dan mengisyaratkan
kerapuhan dan kegalauan jiwa. Apa yang akan
terjadi pada bangsa kita?
      Beberapa orang dengan label pluralis, modernis,
serta ulama dengan aqidah tak tergoyahkan ( ‘seperti Said Aqil Sirodj ‘ dlm tanda petik ) lupa
bahwa generasi muda kita masih sangat rapuh dan
tidak selevel dengan kemampuan mereka.
Sehingga, jika kita mencegah mereka dari aksi
corat-coret seragam pasca kelulusan saja tidak
mampu, maka janganlah kita malah memberi
kesempatan mereka ter-expose dengan figur-figur
yang justru memperkuat perilaku berlebihan dan
sia-sia.
Saya yakin, tidak ada yang percaya bahwa
membangun kreativitas harus dimulai dengan
mencoret-coret wajah, berdandan menor dan
norak untuk memancing perhatian seksual lawan
jenis. Saya tidak percaya, membangun kebebasan
berpikir hanya bisa ditempuh dengan cara
menuliskan dan menyanyikan hal-hal yang
mengajarkan nilai-nilai destruktif.
Saya lebih tidak percaya lagi, bahwa nama
Indonesia akan lebih menjulang di manca negara,
jika membolehkan atraksi-atraksi semacam itu
bertempat di negeri ini. Bahkan, ketegasan kita
menjunjung budaya lokal akan menjadi catatan
positif di dunia sebagai bangsa yang percaya diri
dan memiliki identitas.
Yang saya percaya adalah, bahwa semua negara
sedang berkompetisi dan bersaing di kancah
global. Seperti ketika negara-negara maju sulit
membendung kemajuan inovasi yang kemudian
ditiru negara-negara berkembang. Negara-negara
maju pun mengirimkan produk-produk budaya,
yang diharapkan dapat melambatkan generasi-
generasi muda mereka untuk melupakan cinta
tanah air, cinta budaya nasional dan nilai-nilai
kebangsaan lainnya.
Mereka dibuat sibuk mengobservasi, dan
mengkonsumsi budaya yang memiliki akar jauh
berbeda dengan tempat di mana mereka lahir. Tak
mengejutkan jika hasilnya adalah, semua yang
berasal dari negara-negara pengekspor budaya
itu, termasuk produk-produk industri mereka,
begitu dicintai dan dikaitkan dengan kemajuan.
Akibatnya, banyak produsen di negeri ini malu dan
takut produknya tidak laku jika memakai merek
bangsa sendiri.
Tiap tahun, generasi-generasi terbaik negeri ini,
yang berprestasi dengan nilai akademik tertinggi,
diseleksi oleh negara-negara maju tersebut
dengan iming-iming beasiswa. Mereka dicekoki
kemapanan dan kenyamanan sehingga lupa
kembali ke tanah air. Lupa, bahwa bukan hanya
mereka yang perlu nyaman dan mapan, tetapi juga
jutaan tetangga, teman dan kerabat mereka yang
masih miskin. Akibatnya, tidak semua potensi
bangsa bisa dikerahkan untuk memajukan negeri
ini, serta mempertahankan dari persaingan global.
Lebih menyedihkan lagi, mereka yang “tersisa” dan
yang “rela” maupun “terpaksa” berjuang di dalam
negeri. Mereka menghadapi musuh yang tidak
kalah beratnya bernama Korupsi dan Nepotisme.
Pelakunya tak lain adalah penggemar hedonisme,
yang antara lain dididik melalui berbelanja sesuatu
yang kurang bermanfaat meskipun dengan harga
mahal.
Para pelaku itu menggemari atraksi-atraksi yang
tidak memiliki manfaat jelas, selain memuaskan
hasrat bergoyang dan mengekspresikan tingginya
status sosial. Hal tersebut ditunjukkan dengan
mahalnya harga tiket dan kontroversialnya sang
artis.
Tidak ada energi positif yang dihasilkan dari atraksi
semacam itu, selain menyakiti mereka yang tidak
mampu dan mengokohkan watak borjuis. Mereka
bangga membelanjakan uang senilai upah
minimum regional seorang pekerja garmen.
Terlebih, hasrat borjuis yang ditandai dengan
mengagumi diri sendiri (narsisisme) itu kini
difasilitasi oleh berbagai sosial media yang
membuat mereka ketagihan dari waktu ke waktu
untuk meneguhkan perilaku mereka. Ibarat
pelajaran, ketika itu diulang dari waktu ke waktu
dan makin dinikmati, tentu makin mendarah
daging dampaknya.
Negara yang terlena dan membiarkan generasinya
teracuni oleh budaya sia-sia semacam ini, pada
akhirnya akan tertinggal secara hakiki dan dibuai
tingginya angka pertumbuhan ekonomi. Hal
tersebut terbukti, ketika krisis terjadi hanyalah
angka semu yang tidak memberi bekas nyata di
dunia nyata.
Kita harusnya belajar, bahwa Jepang membangun
kembali semangat memajukan ekonomi negerinya
bukan dengan atraksi semacam Lady Gaga.
Melainkan, film-film pembangkit semangat
semacam Oshin. Pun Amerika, Korea dan negara-
negara maju yang lain. Jika budaya-budaya pop
tersebut muncul di negeri itu saat ini, semata
karena fundamental ekonomi mereka sudah
memadai. Mereka pun juga merasa sudah
“pantas” untuk “itu”, setelah sekian lama berjuang
tanpa semua “itu”.
Mari kita renungkan. Caranya dengan melihat lebih
dari 25 juta tetangga, teman, bahkan saudara kita
yang harus mencukupi hidup dengan uang senilai
tiket tontonan kita. Sudah “pantas”-kah kita?
Syaiful Hikmah
( sumber : Republika online)