Cinta merupakan anugerah Yang Maha Kuasa. Dengan cinta dan sex manusia diharapkan dapat melaksanakan fungsi reproduksi demi kelangsungan eksistensi manusia itu sendiri, tentunya melalui pintu legitimasi yang di sebut “ Pernikahan/ perkawinan”.

Oleh karena itu, penting bagi kita untuk mengetahui proses yang sehat antara cinta, sex, pacaran dan pernikahan. Proses ini dianggap penting karena kesuksesan perkawinan juga ikut menentukan kualitas sumber daya manusia suatu bangsa. Sex yang mendahului cinta, bukan fondasi perkawinan yang kokoh.

Tidak ringan bagi pria dan wanita di abad modern ini, untuk bisa tetap teguh melakukan peran sebagai manusia yang bermartabat di tengah pergaulan dengan tata nilai yang sudah semakin membolehkan berbuat apa saja ( permissivenessisme )  atau hidup “ suka-suka gue “.

Kita menyaksikan fakta bahwa struktur kependudukan dunia memang menunjukkan angka yang tidak menguntungkan bagi pihak wanita. Tersedia lebih sedikit pria usia nikah dan siap nikah untuk dijadikan pasangan hidup wanita ( low sex ratio).

Fakta ini membuat kaum wanita sadar atau tidak sadar merasa gelisah kalau-kalau belum mempunyai pacar atau mendapatkan jodoh, lalu berbuat apasaja untuk mendapatkan pasangan. Hal lainnya adalah banyak wanita yang demi karier harus menunda perkawinan hingga diatas usia 30 tahun. Dan ini dilematis, karena pada kelompok usia ini, pria teman sepantarnya tentu mencari jodoh wanita yang lebih muda. Padahal jika karier sudah dipuncak, dan penghasilan tinggi  sering membuat pria enggan ( baca: minder ) untuk mendekatinya.  Perkawinan dengan orang yang tidak selevel (agama, latar belakang, pendidikan, penghasilan, dan status sosial beresiko tidak langgeng.

Beberapa hal yang sering menjadi penyebab seseorang kurang matang dalam memutuskan menentukan  teman hidup adalah sbb:

  1. Usia pacaran yang relatif sangat muda.
  2. Terdesak oleh usia yang terus bertambah, atau oleh desakan orang-orang sekitar/kel;uarga,.
  3. Model pacaran tidak sehat ( seks mendahului cinta ).

Banyak kasus pacaran sesungguhnya nyaris bersifat ketelanjuran. Terlanjur menjadikannya sebagai pacar, terlanjur sudah akrab dengan keluarga besarnya, terlanjur janji sehidup semati, terlanjur melakukan hubungan sex, dsb. Padahal sejatinya mungkin belum tentu dia yang terbaik buat kita.

Belum apa-apa sudah pergi nonton bioskop berdua, ke tempat karaoke berdua, naik mobil malam-malam  berdua, pergi pesta pulang malam berdua. Sehingga  dengan pola pacaran yang tidak sehat seperti itu, seks sering mendahului cinta. Tidak bisa membedakan mana nafsu dan mana cinta. Ini merupakan awal yang tidak kokoh dalam membangun fondasi perkawinan. Tidak tepat rasanya jika keputusan memilih teman hidup terdesak oleh pertimbangan seksualitas belaka. Maka ketika seks sudah terasa membosankan, pasangan yang sudah terlanjur memutuskan menikah atas dasar seks semata hari-hari perkawinannya nanti akan beresiko kehilangan daya pikat lagi, rapuh dan terancam perceraian.

Kunci menahan seks selama pacaran sesungguhnya ada pada tangan wanita. Wanita harus menjunjung tinggi kehormatannya. Ia sendiri harus menghargai tubuhnya untuk tidak sembarangan dicium, dipeluk  dan dipegang-pegang oleh pria yang belum tentu menjadi suaminya. Terdengar kuno memang, tetapi kodrat seks tidak berubah. Karena apabila wanita sampai mudah terjebak dalam pikatan seks, akan sukar baginya untuk mengelak dan mengatakan ‘tidak ‘.

The Point of No Return

Hukum seks bagi wanita berbunyi “ the point of no return”, apakah itu? . Dalam faal seksualitas wanita memiliki tabiat, akan tercapai suatu perasaan tiba pada “suatu titik kepasrahan sempurna” yang tidak akan mungkin mundur lagi.  Ketika wanita sudah terangsang hebat oleh ciuman, pelukan dan rabaan, maka libidonya akan mencapai puncak. Pada titik itulah wanita biasanya tidak mungkin mundur lagi. Ia tidak mungkin lagi mengatakan “ tidak”, karena nafsu sudah diatas ubun-ubun. Lalu terjadilah hubungan seks yang sebenarnya tidak diinginkannya.

Maka agar the point of no return ( titik kepasrahan sempurna yang tak mungkin undur lagi ) itu tidak terjadi, pria dan wanita perlu merancang model pacaran yang sehat. Menjauhi peluang-peluang berbahaya yang memberi kemungkinan seks dadakan seperti berduaan di kamar kost, berduaan di mobil dimalam hari, pacaran di tempat sunyi, dsb.

Bahwa seks itu harus didudukkan sebagai bunga dari cinta, yang hanya boleh dinikmati setelah pernikahan. Ancaman dari pria sering berbunyi:” kalau betul kau cinta, buktikan dengan kau mau tidur denganku” atau “ kalau kau tak mau tidur denganku kita putus saja”. Ini adalah bentuk stereoptik gombalnya cinta laki-lali. Sering wanita seolah dikodratkan untuk terpedaya.

Unsur- unsur Utama Cinta

Harold Bessel, PhD , menemukan bahwa cinta itu memiliki 3 ( tiga ) unsur utama yaitu : Romantic Attraction ( RA ), Intimaccy ( I ) dan Commitment ( C ).

       Romantic Attractions adalah bentuk perasaan kasmaran karena ketertarikan fisik. Intimaccy adalah proses saling mencocokkan apakah dua orang dari latar belakang berbeda dapat bersatu. Jika Romantic attraction dan proses intimaccy dapat dilalui dengan baik maka hasilnya adalah Commitment, yaitu kesepakatan untuk mengikatkan diri dalam sebuah ikatan resmi pernikahan.

Seyogyanya proses intimaccy tidak dinodai oleh seks. Karena yang jelek-jelek, yang kurang pas, yang tidak cocok, sering tertutupi oleh semakin besarnya dorongan seks. Sehingga antara cinta sejati dan seks menjadi kabur tidak jelas.

Hanya proses intimaccy yang sungguh-sungguh yang akan membuahkan kemampuan saling memahami, toleransi, dan pengertian atas perbedaan. Itulah yang akan mengekalkan baku cinta yang sudah ada dalam setiap sanubari manusia.

Jatuh Cinta

Jatuh cinta itu sendiri adalah proses kimiawi, kata Helen Fisher ( 2006). Kadar dopamine pada otak akan meningkat pada orang yang sedang jatuh cinta.

Berbeda dengan wanita. Pria jatuh cinta lebih didominasi oleh tampilan fisik wanita ( bersifat visual). Misalnya oleh kecantikan wajah, body yang seksi, kulit yang mulus, atau payudara yang besar. Sedangkan wanita cenderung lebih terpikat oleh audio dan kepribadian. Jika ia merasa dilindungi, merasa ada yang perhatian, setia dan romantis, dengan sendirinya akan terbentuk ‘peta cinta’ dalam hati wanita.

Kesulitan umum ketika pria harus memilih pasangan hidupadalah timbulnya keraguan apakah wanita yang dipilihnya betul-betul mencintainya, bukan karena hartanya, pangkatnya . Laki-laki bias saja tidak mencintai, tetapi ia takut kalau tidak dicintai.

( Disarikan dari buku : Kiat Sehat Pranikah oleh Dr. Hendrawan Nadesul )

Artikel ini dimuat juga Facebook Notes Antara Cinta, sex, Pacaran dan Pernikahan