Saya menulis ini lantaran ada seorang teman non muslim yang bertanya kepada saya : bagaimana pendapat saya tentang Ahmadiyah ? mengapa umat Islam tidak menghormati keyakinan Ahmadiyah yang seharusnya merupakan hak asasi yang wajib di hormati ? . Beragam pendapat mengenai persoalan Ahmadiyah mengemuka di tengah-tengah kita. Mulai dari pendapat para ulama, para pengamat sampai para sopir angkot. Ada yang menginginkan Ahmadiyah dibubarkan dan adapula yang menginginkan Ahmadiyah tetap eksis.
Tragedi demi tragedi kemanusiaan terus mewarnai permasalahan Ahmadiyah . Sebut saja tragedi monas dan yang terakhir adalah tragedi Cikeusik yang menjadi sorotan kita bersama bahkan dunia internasional.
Kali ini saya akan mengemukakan pendapat saya sendiri ( he..he.. ). Saya bukan ulama, bukan pengamat, bukan praktisi, bukan anggota FPI dan tentu saja bukan anggota Ahmadiyah. Saya warga negara biasa, seorang muslim. Saya rasa pemerintah perlu mendengar pendapat dari masyarakat akar-rumput ( grass root ) seperti saya ini.

Saya merasa telah bertahun -tahun pemerintah setengah hati ( baca : lamban ) menangani persoalan Ahmadiyah . Padahal MUI telah mengeluarkan fatwa sesat terhadap ajaran Ahmadiyah.

Ahmadiyah harus dibubarkan .

Solusi yang paling tepat adalah membubarkan Ahmadiyah berikut organisasinya, dan melarang penyebaran ajarannya. Ini menuntut keberanian dari pemerintah. Pemerintah jangan takut jika dianggap melanggar HAM. Sebab Ahmadiyah bukan agama tersendiri. ajaran Ahmadiyah adalah sebuah bentuk penyimpangan dari ajaran Islam, dan ini bisa disebut sebagai penistaan terhadap agama. Jika pemerintah terus membiarkan Ahmadiyah tetap eksis ini ibarat membiarkan duri dalam daging, menyimpan sebuah bom waktu yang suatu saat akan meledak lagi.

Masyarakat seperti saya sudah jengah dengan dalil kebebasan beragama, HAM, kebebasan berpendapat dan sebagainya yang dilontarkan beberapa pengamat. Seolah ingin menjadi pahlawan kesiangan. Membiarkan Ahmadiyah adalah sebuah kesalahan besar yang akan menjadi penyesalan para pemangku kebijakan di negara ini. Penyesalan bukan di dunia saja tapi juga penyesalan di akhirat.

Sekilas Tentang Ahmadiyah

Ahmadiyah adalah salah satu sekte baru dalam Islam. Ia datang tak bersamaan dengan kemunculan sekte-sekte Islam lama seperti Khawarij, Muji’ah, Syiah, Mu’tazilah, dan Ahlus Sunnah. Kehadirannya lebih awal beberapa tahun dari Sarekat Dagang Islam, Muhammadiyah, dan Nahdhatul Ulama, di nusantara. Ahmadiyah didirikan oleh Mirza Ghulam Ahmad, di anak benua India pada akhir abad ke-19. Mirza diperkirakan lahir pada tanggal 13 Pebruari 1835 M. /14 Syawal 1250 H, di Qadian India. Sebagian orang menduga bahwa nama “Ahmadiyah” merupakan nisbat dari kata “Ahmad” yang berada di ujung nama Mirza Ghulam Ahmad. Sementara yang lain berpendapat bahwa “Ahmadiyah” merupakan bentuk modifikasi dari nama lain Muhammad SAW, yaitu Ahmad.

Lepas dari itu, jauh sebelum mendirikan Ahmadiyah, Mirza kecil tumbuh seperti umumnya anak-anak dari keluarga Islam lain. Pada usia 7 tahun, Mirza sudah belajar agama kepada seorang guru bernama Fazhl Ilahi yang bermazhab Hanafi. Ia pun belajar tata bahasa Arab, ilmu hadits, dan al-Qur’an. Seiring bertambahnya usia dan untuk meningkatkan derajat spiritualnya, tahun 1886 Mirza menempuh jalan ruhani dengan berkhalwat selama 40 hari. Selang beberapa waktu, persisnya tanggal 23 Maret 1889 bertepatan dengan 20 Rajab 1306 H, Mirza mengaku mendapatkan wahyu dan segera setelah itu mendeklarasikan diri sebagai mujaddid (pembaharu Islam). Tanggal 23 Meret 1889 ini disepakati oleh jemaat Ahmadiyah sebagai tanggal berdirinya “Ahmadiyah”.

Tak cukup sebagai seorang pembaharu, satu tahun kemudian, persisnya tahun 1890, Mirza mengaku sebagai al-Masih yang dijanjikan akan turun di akhir zaman. Menurutnya, Imam Mahdi atau al-Masih yang diujarkan sejumlah hadits akan turun itu bukan al-Masih al-Isra’ili (Yesus Kristus), melainkan al-Masih al-Muhammadi yang ditugaskan untuk melanjutkan dan menegakkan syari’at Nabi Muhammad. Al-Masih al-Muhammadi yang dimaksud adalah diri Mirza Ghulam Ahmad sendiri. Pada tahun 1901, Mirza mengukuhkan kembali perihal posisinya sebagai Nabi Zhilli (nabi bayangan) yang bertugas menjalankan risalah Nabi Muhammad. Agar tak hanya menjadi kesadaran spiritual yang individual, Mirza merancang sebuah gerakan untuk mengkampanyekan misinya. Untuk tujuan itu, ia menggelorakan semangat pengorbanan harta terutama untuk membeayai penyebaran (tafsir) Islamnya.

Ahmadiyah belum bergerak jauh dengan merambah negeri-negeri lain. Sementara Mirza sudah merasa bahwa dirinya tak akan lama lagi akan meninggal dunia. Tahun 1908, Mirza menulis risalah berjudul “al-Washiyyat” yang menyatakan bahwa masa kepergian beliau ke alam baqa sudah dekat. Dan dia menegaskan agar para pengikutnya tunduk dan patuh kepada pimpinan atau khalifah yang akan menggantikan dirinya. Mirza meninggal dunia pada tanggal 26 Mei 1908 di Lahore, tapi dikuburkan di Qadian. Ia wafat dengan meninggalkan 80 buah karya intelektual, kelak menjadi rujukan pengikut Ahmadiyah.

Sepeninggal Mirza, kepemimpinan Ahmadiyah jatuh pada Hakim Nuruddin. Ia berhenti menjadi khalifah, karena ajal datang menjemput, tanggal 13 Maret 1914. Sepeninggal Hakim, terjadi pertentangan tentang siapa yang berhak menjadi khalifah-pengganti. Saat itu ada dua calon yang diajukan, yaitu Mirza Basharuddin Mahmud Ahmad dan Maulvi Muhammad Ali. Yang terpilih adalah Basharuddin. Dengan kemenangan Basharuddin, pengikut Muhammad Ali menyatakan menarik diri dari Ahmadiyah pimpinan Basharuddin. Mereka mendirikan organisasi lain dengan nama Anjuman Ishaat Islam yang berpusat di Lahore. Kelompok ini kemudian dikenal dengan Ahmadiyah Lahore. Sementara pengikut Ahmadiyah pimpinan Basharuddin disebut Ahmadiyah Qadian.

Berbeda dengan Ahmadiyah Lahore yang tak berkembang pesat, maka Ahmadiyah Qadian telah tersebar ke berbagai negara. Dalam masa kepemimpinan Mirza Masroor Ahmad (khalifah ke 5), Jemaat Ahmadiyah telah merambah ke 185 negara di dunia. Jemaat Ahmadiyah telah menyebarkan dakwah Islam di daratan Eropa, Australia, dan Amerika dengan mendirikan mesjid dan pusat-pusat dakwah di tiga benua tersebut. Bahkan, ia terus merangsek masuk ke sejumlah Negara di Asia seperti Jepang, China, Korea. Bahkan, Ahmadiyah masuk ke nusantara jauh sebelum negara bangsa Indonesia berdiri.

Alkisah, Muballig Ahmadiyah bernama Maulana Rahmat Ali yang membawa Ahmadiyah ke wilayah nusantara melalui kota Tapaktuan Aceh pada tanggal 2 Oktober 1925. Dari Tapaktuan, Jemaat Ahmadiyah berkembang ke wilayah Sumatera Barat dan pada tahun 1931 masuk ke Batavia (sekarang Jakarta). Pada tahun 1932, Jemaat Ahmadiyah berkembang di Batavia dan Bogor. Lalu masuk ke daerah-daerah sekitar seperti Tangerang, Cianjur, Sukabumi, Bandung, Garut, Tasikmalaya, Ciamis, Karawang, dan lain-lain.

Dengan makin membesarnya Ahmadiyah, maka pada tahun 1935 Jemaat Ahmadiyah Indonesia membentuk Pengurus Besar. Dan pada tanggal 12-13 Juni 1937, diselenggarakan kongres pertama di Masjid Hidajath Jln. Balikpapan I/10 Jakarta dengan dihadiri pengurus wilayah. Saat itu disepakati berdirinya AADI (Anjuman Ahmadiyah Departemen Indonesia) hingga kemudian diubah menjadi Jemaat Ahmadiyah Indonesia (JAI) sebagai hasil dari kongres tanggal 9-11 Desember 1949. Dari situlah, JAI terus berkembang sebagai organisasi sosial keagamaan yang diakui Negara.

Bagaimana Ahmadiyah Bertafsir?

Ahmadiyah memiliki cara pandang dan tafsir yang berbeda dengan kebanyakan umat Islam. Sejumlah ayat dalam al-Qur’an ditafsirkan secara “tak lazim”. Ada dua yang paling kontroversial. Pertama, adalah pandangannya tentang adanya nabi setelah Nabi Muhammad. Mereka mengakui bahwa Nabi Muhammad adalah khatam al-anbiya’ yang membawa syariat. Dengan demikian, terbuka kemungkinan bagi hadirnya seorang nabi yang berfungsi melanjutkan dan menegakkan syariat Islam yang dibawa Nabi Muhammad. Bagi Ahmadiyah, kata “khatam” dalam ayat “khatam al-nabiyyin” berarti bahwa Nabi Muhammad adalah stempel nabi-nabi. Nabi Muhammad adalah nabi yang mencapai puncak ruhaniyah yang tak akan pernah dimiliki atau dicapai oleh nabi lain. Dengan demikian, Nabi Muhammad bukanlah penutup fisik-jasmani kenabian sehingga kehadiran seorang nabi tak boleh terjadi, melainkan penutup seluruh pencapaian puncak spiritual yang tak mungkin digapai oleh yang lain. Artinya, masih dimungkinkan adanya nabi setelah Nabi Muhammad, dengan kualitas ruhani yang lebih rendah dari Nabi Muhammad dan yang berfungsi untuk melanjutkan syariat Nabi Muhammad.

Tafsir yang dikemukakan Ahmadiyah ini jelas berbeda dengan pandangan para ulama Ahlus Sunnah yang berpendirian bahwa Nabi Muhammad adalah nabi terakhir yang menutup segala jenis kenabian. Bahwa tak ada nabi setelah Nabi Muhammad yang juga menerima wahyu. Bagi Ahlus Sunnah, aliran wahyu sudah terhenti bersamaan dengan berhentinya kenabian. Atas dasar itu, sejumlah ulama sunni menyesatkan Ahmadiyah. Bahkan tak sedikit orang berpendapat bahwa darah jemaat Ahmadiyah boleh ditumpahkan. Maka tindak kekerasan dan pembasmian terhadap jemaat Ahmadiyah menjadi tak terhindarkan.

Kedua, Ahmadiyah mempunyai perbedaan tafsir dengan umat kristiani tentang sosok Yesus Kristus. Misalnya, menurut Ahmadiyah, Yesus meninggal dalam usia 120 tahun, di Kashmir India. Pandangannya ini konon didasarkan kepada Hadits riwayat Thabrani, “Rasulullah berkata kepada Fathimah: Jibril mengabarkan kepadaku bahwa Nabi Isa hidup 120 tahun lamanya” [qala Rasulullah li Fathimah: akhbarani Jibrilu an Isa ibn Maryam ‘asya ‘isyrina wa mi’atan sanatan]. Dan Yesus pun tak naik ke langit, sebagaimana pandangan umum umat Islam dan umat kristiani. Bagi Ahmadiyah, sekiranya Yesus naik ke langit, itu berarti Allah mempunyai tempat, yaitu langit. Jelas, mustahil bagi Allah untuk mempunyai tempat, karena Allah tak berupa jasad. Ahmadiyah tak menafsirkan kalimat “rafa’ahu Allah” dalam al-Qur’an sebagai diangkatnya Yesus secara jasmaniah ke atas langit, melainkan diangkatnya derajat Yesus secara ruhaniah. Fisik-jasmani Yesus terbaring di Kashmir, sementara ruh-spiritualnya berada dekat di sisi Allah. Tentang tafsirnya ini, kebanyakan para ulama cenderung tak mempersoalkannya. Namun, pandangan Ahmadiyah ini potensial mengguncangkan bangunan teologi dan doktrin kalangan kristiani.

Jalan Kontekstualisasi

Saya kira ada banyak pandangan-pandangan fikih-tafsir Islam Ahmadiyah yang berbeda dengan pandangan umat Islam lain. Namun, sekali lagi, hanya satu yang menjadi keberatan utama umat Islam lain, yaitu tentang adanya seorang nabi setelah Nabi Muhammad. Tak hanya keberatan verbal. Lebih dari itu, sebagian umat Islam berusaha untuk membubarkan organisasi Jemaat Ahmadiyah Indonesia (JAI). Sebagian yang lain ingin memposisikan Ahmadiyah sebagai agama lain, non-Islam.

(dari berbagai sumber )