Pernikahan. Sebuah kata yang amat agung, yang tentu saja didambakan oleh hampir semua umat manusia, tak terkecuali saya (  karena memang saya juga manusia ) he…he…Melalui institusi pernikahan manusia dapat menyalurkan rasa cintanya terhadap lawan jenis secara legal dan  terhormat . Dapat menikmati hubungan seksual yang halal secara agama dan budaya untuk menghasilkan keturunan yang bermartabat demi kelangsungan eksistensi manusia itu sendiri. ( yaelah… diplomatis amat ).

Namun saya melihat fenomena , terutama di perkotaan apa yang disebut fenomena ‘kawin tua’
. Pernikahan dianggap sebagai sesuatu yang ‘ ntar-ntar aja’  menakutkan atau istilah tepatnya sebuah kekhawatiran.  Banyak diantara mereka terutama eksekutif muda kaum terpelajar  lebih mementingkan karier, mengejar jenjang kepangkatan dan melupakan pernikahan . Mereka lebih senang bergelimang dosa dalam pergaulan bebas dan pacaran yang tidak sehat. Mereka lebih senang menunda-nunda pernikahan dengan alasan belum siap. Padahal mereka telah mempunyai pekerjaan dengan gaji yang boleh dibilang lebih dari cukup. Saya menyebutnya sebagai  ‘ keangkuhan budaya ‘.

Tak terasa waktu dengan cepat berlalu,  tahu-tahu mereka telah berusia lebih dari 35 tahun. Mereka baru sadar, bahwa mereka harus menikah. Kesulitan pun dihadapan mata, jika mereka tidak punya  pacar, mereka akan  kesulitan mencari jodoh.

Seperti yang di alami M ( wanita 35 th ) seorang dokter atau kisah N ( wanita 33 th ) seorang sekretaris   yang harus kebingungan mencari suami, karena bertahun-tahun mereka sibuk kuliah, kerja dan kerja.

Lain di kota lain pula di desa.  Sebuah ‘ keangkuhan budaya ‘ yang mengakibatkan sulit jodoh adalah perklenikan. Dalam masyarakat Jawa (karena saya memang orang Jawa ) ada apa yang disebut dengan primbon. Ramalan hitung-hitungan berdasarkan hari lahir dan pasaran .

Misalnya saja seorang  laki- laki yang lahir pada hari Rebo Kliwon tidak boleh menikah dengan wanita yang lahir pada hari Selasa legi. Ia tidak boleh bekerja dengan hal-hal yang berbau api, dan sebagainya.

Ada pula larangan menikah dengan apa yang disebut  ngalor- ngetan ( arah utara ke timur ), larangan menikah dengan yang  sampir (  berseberangan jalan)   dan sebagainya.

Orang jawa punya filsafat jika mencari jodoh itu harus sama bibit- bebet lan bobote artinya yaitu seimbang  derajat keturunannya, seimbang dalam pendidikan,  seimbang dalam hal   ekonominya dan sebagainya.

Hal-hal berbau takhayul tersebut masih dipercayai oleh sebagian besar masyarakat kita , yang terkadang  malah membuat kita sulit mendapatkan jodoh, seperti yang saya alami. Hmmmmm…….