ponari

Ponari , bocah cilik berusia sepuluh tahun asal Desa Balongsari, Jombang Jawa Timur mendadak terkenal. Ribuan orang berduyun-duyun dan rela mengantre berdesak-desakan hanya untuk mendapatkan ‘ air bertuah ‘ dari Ponari setelah dicelup dengan sebuah batu ajaib. Konon Ponari memperoleh kesaktian setelah mendapatkan sebuah batu. Peristiwa yang hampir merenggut jiwanya itu, banyak orang yang percaya bocah ini bisa mengobati segala macam penyakit.

Anak pasangan Kasim (40) dan Mukaromah (28), warga Dusun Kedungsari, Desa Balongsari, Kecamatan Megaluh, Jombang, pada pertengahan Januari 2009 lalu bersama teman-teman sebayanya asyik bermain hujan. Namun, tiba-tiba dia merasakan kepalanya seolah dilempar batu sekepal tangan, saat petir menyambar.

Saat tersadar, Ponari menemukan batu sebesar telur ayam di bawah kakinya. Saat diambilnya, batu itu mengeluarkan sinar kemerah-merahan. Setelah itu, batu yang ditemukannya lalu dibawa pulang.

Selang berapa lama, tiba-tiba rumah bocah itu selalu dibanjiri warga dari pelosok Jawa Timur yang ingin berobat untuk menyembuhkan penyakitnya. Sayangnya, tidak ada yang tahu, siapa yang menyuruh Ponari membuka praktek pengobatan alternatif itu. Selain itu, tidak jelas pula, siapa yang pertama kali diobati oleh Ponari, sehingga penyakit yang diderita bisa sembuh.

Hanya saja, sejak batu mirip kepala belut itu ditemukan, beredar kabar di masyarakat, Ponari bisa menyembuhkan berbagai penyakit. Tentunya dengan syarat sudah meminum air yang dicelup batu milik Ponari itu.

Tak pelak, setiap hari rumah Ponari selalu dipenuhi ratusan orang yang ingin berobat. Terlebih lagi, bocah yang baru duduk di kelas 3 SDN Balongsari ini, tidak memungut tarif kepada para pasiennya.

Akibat antrean yang panjang mengakibatkan jatuhnya korban. Polisi dan pihak berwenang menghentikan kegiatan pengobatan itu namun beredar kabar bahwa praktek dukun cilik ponari akan di buka kembali.

Fenomena Kemusyrikan

Adanya batu bertuah dikhawatirkan membawa masyarakat ke arah kemusyrikan dan tindakan irasional.

Pasien dukun cilik Ponari asal Jombang terus meningkat dari hari ke hari. Psikolog menilai fenoma ini sebagai mulai tidak rasionalnya masyarakat dalam menyikapi suatu masalah.”Saya melihat ini sebagai bentuk tidak rasional. Di mana keampuhan batu petir itu belum bisa dibuktikan secara medis,” kata anggota Majelis Himpunan Psikolog Indonesia DKI Jakarta, Lukman Saroso Sriamin
Lukman menilai, ada beberapa aspek fenomena ini terjadi. Salah satunya mahalnya biaya pengobatan dan obat bagi masyarakat kelas menengah dan bawah. Ini melihat dari jumlah pengunjung yang datang ke rumah Ponari sebagian besar berasal dari kalangan menengah ke bawah.

“Karena kemanjuran batu tersebut hanya dari mulut ke mulut dan katanya-katanya. Jadi ini hanya bersifat sugesti dan tidak teruji kebenarannya. Masak dengan air putih dan dicelupkan batu semua penyakit bisa sembuh,” jelasnya.

Polisi Rusak Sumur Ponari

Semakin hari keyakinan masyarakat akan kemampuan Ponari, si dukun cilik yang mampu menyembuhkan berbagai penyakit semakin tinggi. Hal ini ditakutkan menimbulkan dampak negatif, yakni syirik maupun takhayul bagi masyarakat.Entah harus memulai langkah apa untuk menghentikan fanatisme ribuan orang yang percaya betul dengan Ponari. Namun Kapolres Jombang AKBP Khosim memulainya dengan caranya sendiri yakni berhenti membicarakan semua tentang Ponari.

“Saya sudah tidak mau bicara apapun mengenai Ponari, karena menurut saya ini sudah menjadi syirik dan takhayul, kasihan masyarakat,” ujar Khosim.

Menurutnya, sekali dia berbicara mengenai Ponari maka akan berdampak besar bagi masyarakat luas. Oleh karena itu dia menolak saat dimintai keterangan mengenai alasan polisi membongkar sumur di dekat rumah sang dukun cilik itu.

“Maaf saya sudah tidak mau lagi bicara soal Ponari, maaf ya,” tandasnya singkat.

Diberitakan sebelumnya, sumur di rumah Ponari dirusak paksa oleh polisi. Pasalnya, meski lokasi praktik pengobatan supranatural itu telah ditutup total, namun warga tetap berebut meminta “berkah” dari Ponari.

Salah satunya dengan berebut air sumur milik Ponari yang diyakini bisa menjadi obat macam-macam penyakit. Akibat banyaknya warga yang berebut air sumur ini, polisi terpaksa merusak bagian pompa manual yang terpasang di atas sumur.

Cermin Ketidakberdayaan Masyarakat

Fenomena pengobatan altenatif seperti Ponari adalah cermin dari ketidakberdayaan masyarakat dalam bidang kesehatan. Mahalnya biaya berobat ke rumah sakit menjadi faktor pendorong masyarakat memilih pengobatan alternatif sebagai jalan akhir . Namun hal ini di bantah oleh Departemen kesehatan. menurut Depkes melalu program Jamkesmas ( jaminan Kesehatan masyarakat ) pemerintah telah mengalokasikan milyaran rupiah untuk kesehatan masyarakat kurang mampu. Kultur masyarakat yang lebih percaya hal-hal mistis dan rendahnya kualitas pendidikan adalah juga faktor yang mempengaruhi hal itu.  ( OkeZone.com, detik.com, Tempo )