Abdul Aziz Angkat Ketua DPRD Provinsi Sumatera Utara tewas setelah dikeroyok dan dianiaya massa , sesaat setelah pembahasan rencana pemekaran provinsi Tapanuli. Pengeroyokan dilakukan oleh pendukung pemekaran provinsi Tapanuli ( Protap ), yang menerobos masuk hingga ke ruang sidang. Abdul Aziz sempat diselamatkan ke dalam ruang fraksi Golkar namun akhirnya meninggal dalam perjalanan menuju rumah sakit.

Menurut hasil visum korban meninggal akibat serangan jantung.

Hal tersebut diungkapkan ahli saraf RS Gleneagles, dr Kolman Saragih.

“Yang bersangkutan meninggal akibat serangan jantung. Namun kami juga menemukan luka memar di kepala dan dadanya,” kata Kolman.

Jenazah Aziz saat ini sudah dibawa keluarganya untuk disemayamkan di rumah duka, Jl Eka Rasmi, Medan. Menurut rencana jenazah akan dimakamkan di TMP Kalibata namun setelah melalui musyawarah keluarga akhirnya diamakamkan di TPU Muslim BKL Warmi.

Kronologi

Sebelum peristiwa naas itu terjadi Azis sedang memimpin rapat paripurna pelantikan pergantian antarwaktu anggota DPRD Akman Daulay di DPRD Sumut, Jl Imam Bonjol, Medan, Selasa (3/2/2009).

Bersamaan dengan itu, sekitar seribuan orang melakukan unjuk rasa di depan gedung DPRD Sumut. Mereka menuntut pembentukan Provinsi Tapanuli.

Awalnya massa hanya menggelar orasi. Namun tidak lama kemudian, mereka merangsek masuk ke dalam gedung DPRD. Sejumlah personel Polri yang berjaga-jaga tidak mampu membendung massa. Para demonstran terus merangsek maju dan naik ke lantai 2 gedung DPRD Sumut.

Suara hiruk-pikuk massa menarik perhatian Aziz. Dia pun kemudian naik ke lantai 2 hendak menemui para demonstran. Namun entah apa sebabnya, Aziz tiba-tiba dipukuli massa. Diduga kuat, Aziz dinilai tidak aspiratif sehingga massa kecewa.

Aziz dipukuli demonstran yang menuntut pembentukan Provinsi Tapanuli di DPRD Sumut. Belum diketahui pasti mengapa para demonstran bersikap anarkis.

Sejumlah petugas keamanan DPRD Sumut langsung berusaha menyelamatkan Aziz. Namun demikian sejumlah orang masih terus memukuli Aziz. Politikus itu pun akhirnya ambruk dan dilarikan ke RS Gleneagles yang terletak sekitar 300 meter dari kantor DPRD Sumut. Namun sayang, sesampainya di RS tersebut Aziz menghembuskan napas terakhirnya.

Sementara itu pihak kepolisian telah menetapkan 6 tersangka dalam peristiwa pengeroyokan tersebut.

Pemekaran Tapanuli akan ditinjau Ulang

Rencana pembentukan Provinsi Tapanuli terpisah dari Provinsi Sumatra Utara akan ditinjau ulang. Hal itu dilakukan bila kemudian terbukti aksi anarkis yang berujung kematian Ketua DPRD Sumut, Abdul Aziz Angkat, terkait dengan rencana pemekaran wilayah itu. Demikian ditegaskan Menteri Dalam Negeri, Mardiyanto, di Jakarta, Rabu (4/2).

Langkah selanjutnya, jelas Mardiyanto, akan ditentukan atas laporan Gubernur Sumut soal kericuhan di Medan kemarin. Pihaknya akan menampung semua keterangan dan aspirasi termasuk desakan pembentukan Provinsi Tapanuli. “Tapi pemekaran tentu ada aturannya,” tambah Mardiyanto seraya menambahkan untuk menyelesaikan satu per satu permasalahan sesuai prioritas yakni kematian Abdul Aziz.

Bagi tokoh masyarakat Sumut, TB Silalahi, peristiwa tragis yang menimpa Abdul Aziz adalah akibat dari proses demokrasi yang terlalu cepat. Demokrasi perlu pembentukan yakni mendidik kesadaran masyarakat untuk berdemokrasi. “Antara lain dalam menyampaikan aspirasi agar tak terjadi aksi anarkis,” imbuh TB Silalahi.

Sebenarnya, jelas TB Silalahi, konteks pemekaran wilayah seperti yang diatur dalam Undang-undang Nomor 5 Tahun 1974 dan peraturan yang mengikutinya adalah difokuskan pada kabupaten. “Provinsi tidak akan pernah dimekarkan, kabupaten pun tidak dimekarkan. Tapi jusrtu diperkokoh. Kalau perlu jika kabupaten yang tidak mampu digabungkan,” tutur anggota dewan pertimbangan Presiden itu.

Insiden pengeroyokan ini adalah bukti bahwa kedesewasaan berpolitik dan berdemokrasi masyarakat Indonesia masih rendah dan memprihatinkan. Untuk itu pendidikan demokrasi yang santun perlu terus di sosialisasikan.

( sumber : Waspada Online, Detik.com, Liputan6, dan Deli TV )

n