( Klik Video ) Sidang DK PBB

( Klik Video ) Sidang DK PBB

( Klik Video ) Pertempuran Gaza

( Klik Video ) Pertempuran Gaza

Sebanyak 16 negara anggota DK ( Dewan Keamanan ) PBB mengadakan pertemuan untuk membahas krisis di Gaza . Dalam voting 14 negara menyetujui diadakannya genjatan senjata , sementara Israel menolak dan Amerika Serikat abstein.

Israel berdalih bahwa serangan di Gaza bukan dimaksudkan untuk menduduki Gaza namun untuk membela diri dari serangan-serangan roket Hamas. ” Tidak realistis jika kami harus melakukan gencatan senjata , namun Hamas masih menembakkan roketnya ke wilayah kami ” kata Presiden Israel Simon Peres.

Sementara korban tewas di pihak Palestina telah mendekati angka 900 orang sebagian besar warga sipil termasuk anak-anak, sedangkan dipihak Israel korban tewas mencapai 18 orang 3 diantaranya warga sipil.

Konflik Gaza dikhawatirkan akan meluas menyusul serangan roket dari wilayah Libanon yang disinyalir dilakukan oleh kelompok Hizbullah, Namun otoritas Hizbullah di Libanon selatan membantah hal tersebut.

Indonesia telah mengirimkan bantuan pangan dan obat-obatan senilai 2 Milyar Rupiah . Bantuan yang sempat tertahan di perbatasan Mesir akhirnya dapat sampai kepada warga Palestina.

Demonstrasi besar-besaran terjadi hampir di seantero dunia, bahkan yang menarik demonstrasi menentang agresi Israel ke Gaza juga dilakukan orang Yahudi seperti yang terjadi di Sydney, Kanada, dan Amsterdam- Belanda.

Demonstrasi yang di Belanda dilakukan kelompok ” Suara lain Yahudi ” . Selain berdemo mereka juga menggelar siaran pers berikut terjemahannya :

Kabinet Olmert mulai periode pemerintahannya dengan serangan udara terhadap Lebanon di 2006, dan mengakhirinya dengan khas: bombardemen berdarah-darah ke Gaza.

Saat itu dan sekarang alasannya sama: kami tak bisa lain. Saat itu dan sekarang adalah kebohongan.

Perang terhadap Libanon adalah pilihan sadar dan eskalasinya dikehendaki, bombardemen di Gaza juga begitu.

Bahkan agresi ke Gaza itu merupakan pamungkas atas blokade yang melawan hukum dan tidak berperikemanusiaan, dilakukan atas keterlibatan Amerika Serikat (AS), Eropa dan Mesir.

Meskipun demikian Hamas tak bisa dipaksa bertekuk lutut. Persoalan harus segera dituntaskan, sebelum mungkin angin baru akan bertiup dari Washington di bawah pemerintahan baru. Oleh sebab itu bukan tanpa alasan Israel telah lebih dulu melanggar gencatan senjata dengan serangan pertama pada 4/11/2008, bertepatan dengan hari terpilihnya Obama.

Hamas harus dan akan dijungkalkan dari kekuasaannya, aparat pemerintahannya dihancurkan, dan para pemimpinnya dibunuh. Mereka tidak boleh membela diri, mereka harus menurut. Di sisi lain, seperti di Libanon, Israel mengerahkan kekuatan militer moderen nan menghancurkan terhadap penduduk sipil, demi merealisasikan tujuan-tujuan politik.

Bagi pemerintah Israel diplomasi adalah kelanjutan dari perang dengan alat lain. Ancaman, tekanan, dan kekerasan militer adalah bahasa andalan Israel. Pemerintah Olmert dalam hal ini sama saja: mereka selama 3 tahun sama sekali tidak berprestasi, di mana mereka dapat mendekatkan sebuah solusi konflik Israel-Palestina barang semilimeter pun melalui perundingan.

Oleh karena itu Yayasan Suara Lain Yahudi menilai Israel tidak hanya bertanggung jawab atas setiap korban yang tewas atau luka di Gaza, tetapi juga untuk stagnasi total dari proses damai.

Sebuah pemerintahan yang memiliki semua kartu truf di tangan untuk mencapai keberhasilan diplomasi, namun gagal secara menyedihkan terutama karena ketidakmauan, dan menjelang habis masa pemerintahannya tak punya cara lain selain berperang, adalah tidak hanya inkompeten tetapi juga kriminal.

Kebijakan luarnegeri Belanda sangat menyolok dengan toleransi berlebihan terhadap ‘negara sahabat’ ini, yang terhadap para tetangganya berkelakuan tidak lebih baik dari negara penjahat paling jahat.

Pengurus Yayasan Suara Lain Yahudi