Jakarta (ANTARA News) – Ketua Sub Komisi Politik forum parlemen Asia (APA) Marzuki Darusman menyatakan, teror di Mumbai, India, menjadi sorotan khusus dalam persidangan III APA dan semua pihak menganggap ancaman terorisme itu riil dan harus diperhatikan serius.

“Peristiwa ini memang mengejutkan. Ini kembali mengingatkan bahwa terorisme itu riil dan tidak bisa dihubungkan dengan satu bangsa tertentu,” ujarnya disela-sela sidang APA di Jakarta Convention Center, Jumat.

Anggota Komisi I DPR bidang Pertahanan dan Luar Negeri itu mengakui terorisme bisa terjadi dimana saja, namun yang merisaukan peristiwa di India itu skalanya demikian besar.

Oleh karena itu, Marzuki berpendapat, semua pihak harus kerjasama mencegah terorisme yang telah berkembang dimana-mana.

Dia mengatakan, terorisme muncul di lapisan masyarakat manapun dan belum tentu berhubungan dengan keadaan ekonomi suatu masyarakat, terbukti dari peristiwa Mumbai yang merupakan kota besar India bermayoritas kelas menengah. 

“Ini menjadi peringatan bahwa keadaan dunia tidak bisa begini terus. Bagaimana pun terorisme itu berkaitan dengan keadaan yang tidak memuaskan selain dengan soal keadilan dan ketimpangan,” katanya.
Serangan teroris di Mumbai, India, menuai kecaman dari dunia internasional. Dunia khawatir serangan itu akan memicu ketegangan yang telah ada sejak dulu antara India dengan Pakistan.

Presiden AS George W Bush mengungkapkan bela suangkawanya kepada rakyat India. Calon pengganti Bush, Barack Obama, juga memberi pernyataan.

“Serangan terkoordinir terhadap warga sipil tak berdosa ini menunjukkan betapa bahaya dan daruratnya serangan ancaman terorisme. AS harus terus memperkuat pertemanan dengan India dan negara-negara di seluruh dunia untuk mencabut dan menghancurkan terorisme,” ujar Obama seperti dilansir guardian.co.uk, Jumat (28/11/2008).

Di Moskow, Presiden Rusia Dmitry Medvedev juga mengeluarkan pernyataan. “Kami prihatin dengan pembunuhan yang terjadi dan kami menganggap aksi terorisme semacam ini berbahaya bagi tatanan dunia secara keseluruhan dan merupakan tantangan terhadap kemanusiaan,” ujar Medvedev.

Paus dan Sekjen PBB Ban Ki-moon juga mengutuk serangan tersebut.

Perdana Menteri Inggeris Gordon Brown tak mau ketinggalan. “Saya kira saya bicara kepada seluruh dunia yang terkejut dan marah dengan adanya pembunuhan orang-orang tak berdosa yang tragis itu. Saya telah menyampaikan rasa simpati dan dukungan saya kepada Perdana Menteri (Manmohan) Singh. Kami akan melakukan apa pun yang kami bisa untuk membantu Pemerintah India,” ujar Brown.

Komentar dari PM Singh yang menyalahkan kelompok teroris sebagai penyerang yang memiliki ‘jaringan luar’ seolah mengingatkan akan hari-hari gelap hubungan India-Pakistan. Pada masa itu, India selalu menganggap Pakistan berada di balik setiap penyerangan yang dilakukan oleh kelompok militan. India menyalahkan kelompok-kelompok yang dianggap telah didirikan oleh agen mata-mata Pakistan, The Inter-Service Intelligence (ISI), untuk membalas kekalahan Pakistan dari India di perang tahun 1971.

Sebuah serangan teroris kepada parlemen India pada Desember 2001 membangkitkan mobilisasi massa kedua negara dan hampir mengakibatkan peperangan. Oleh India, kesalahan ditimpakan kepada kelompok militan Kashmir yang berbasis di Pakistan. Pemerintah Pakistan sendiri juga mengecam keras kekerasan itu dan mengungkapkan belasungkawa sedalam-dalamnya atas terjadinya korban jiwa.

Sangat disayangkan, dunia malah diam ketika lebih dari satu juta kaum Muslim di Iraq dan Afghanistan menjadi korban kebrutalan teroris AS. Dunia internasional ramai membisu atas teroris nyata Amerika. Demikian juga ketika yang menjadi korban Lebih kurang 2.000 muslim dibunuh, diperkosa dan dibakar hidup-hidup dalam kerusuhan di Gujarat India Februari 2002, dunia membisu. Begitu juga saat Masjid Babri di Ayodhya dihancurkan oleh militan Hindu pada 1992, di mana dunia saat itu?