Di tengah prosesi pemakaman, pelayat Dulmatin tercengang. Beberapa kali, awan seolah membentuk lafal Allah.

Meski tampak pudar, awan yang tepat berada di atas pemakaman Dulmatin alias Joko Pitono terlihat membentuk tulisan asma Allah. Fenomena alam ini terjadi berulangkali, yakni dua kali saat jenazah hendak dimasukkan ke liang lahat, dan tiga kali saat jenazah Dulmatin dibawa dari rumah duka menuju masjid untuk dishalatkan.

Iring-iringan pelayat berhenti di perempatan, 100 meter Masjid Besar tempat jenazah disemayamkan, Jumat (12/3/2010). Sejumlah pelayat meneriakkan takbir sambil menunjuk langit.

Di langit, awan membentuk lafal Allah. Jelas dan cukup besar. Warga yang menyaksikan itu tampak sangat tercengang. Mereka turut menunjuk langit demi menarik perhatian warga lainnya.

Dalam hitungan detik, awan itu bergeser dan tak membentuk apa pun. Iring-iringan jenazah pun melanjutkan perjalanan ke Makam Dowo, Desa Loning, Petarukan.

Lafal Allah kembali muncul saat jenasah hendak dimasukkan ke liang lahat. Tapi pelayat tak sekaget seperti sebelumnya. Lalu, ketika prosesi pemakaman usai, di langit juga terlihat awan yang membentuk huruf Allah. Kali ini, sebagian pelayat.

“Allahu Akbar,” teriak simpatisan Dulmatin berulang kali sambil menunjuk langit di arah tenggara itu. Warga yang hadir, ikut menunjuk langit dengan mimik seperti tak percaya.

Abu Jibril Kecam Aksi Main Tembak Densus 88

Dulmatin, Ridwan, dan Hasan Nour terpaksa ditembak mati satuan Densus 88 karena dianggap melawan. Aksi ini pun dikecam oleh Abu Jibril.

“Saya tidak sepakat dengan aksi yang dilakukan oleh Densus. Indonesia ini punya UU sendiri, dan Densus itu melanggar UU,” ujar Abu Jibril di kediamannya, Jl Nakula, Kompleks Perumahan Witanaharja, Pamulang, Tangerang, Kamis (11/3/2010).

Menurut Abu Jibril, Densus seharusnya mampu menangkap hidup-hidup orang yang dianggap teroris. Setelah itu, lanjut Abu Jibril, orang tersebut diperiksa sampai ke ranah pengadilan.

“Tidak seperti Densus, main bunuh orang tanpa bukti, membunuh orang tanpa putusan pengadilan. Membunuh orang yang beriman itu hukumannya neraka jahanam,” tegasnya.

Ia emoh dianggap bertanggung jawab soal perubahan yang dialami Fauzi Syarif usai mengikuti pengajiannya. Di antara ratusan jamaah, tidak ada perangai yang berubah, seperti yang dialami Fauzi.

“Yang ngaji di tempat saya ratusan, dan tidak ada yang seperti itu. Saya juga tidak mengajarkan seperti itu (paham terorisme),” pungkasnya.

Abu Bakar Ba’asyir : Dulmatin bukan Teroris

Ustad Abu Bakar Ba’asyir menjawab pertanyaan sejumlah wartawan di kediamannya, kompleks Pesantren Al Mukmin Ngruki, Sukoharjo, Jumat (12/3). Ustad Abu Bakar Ba’syir menyatakan Dulmatin bukanlah teroris melainkan pejuang Islam yang melakukan jihad. Kendati begitu, Ba’syir mengakui cara Dulmatin dalam berjuang keliru.

Pengasuh Pondok Pesantren Al Mukmin Ngruki Sukoharjo, Abu Bakar Baasyir menolak bahwa  Dulmatin adalah teroris. Lelaki yang tewas dalam penggerebekan di Pamulan, Tangerang ini, menurut Baasyir adalah seorang mujahid. “Dia adalah mujahid,” katanya. Selama ini Dulmatin berjuang melawan musuh agama dan dianggap mati syahid.

Dulmatin, kata pimpinan Pondok Pesantren Ngruki ini, digerebek karena melanggar Undang-undang. Namun dia menyatakan, penembakan Dulmatin oleh polisi, adalah wajar.

Meski menganggap Dulmatin adalah pejuang, Baasyir menegaskan dia tidak setuju dengan sikap yang diambil oleh suami Istiadah ini. “Karena dia melakukan kekerasan di area damai,” kata Baasyir.

Dia melanjutkan, jihad sebenarnya hanya boleh dilakukan di daerah perang. Dulmatin bukan seorang nabi, sehingga perbuatannya masih perlu untuk dikoreksi.

Baasyir mengaku tidak mengenal sosok Dulmatin. Dia juga mengatakan jika dirinya tidak pernah bertemu dengan tersangka teroris yang ditembak mati di Pamulang tersebut.

( sumber : SM CyberNews/Ardiansyah, detikcom, Solopos, tempo Interaktif )

About these ads